Jakarta – Harga emas dunia mengalami penurunan pada awal pekan perdagangan global setelah tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta lonjakan harga minyak mentah yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) untuk sementara melemah di pasar global.
Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga emas spot tercatat turun dan diperdagangkan di kisaran 5.070 dolar AS per troy ounce. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga emas sempat mengalami kenaikan pada sesi perdagangan sebelumnya. Namun, penguatan dolar AS serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika membuat investor mulai mengalihkan dana mereka dari logam mulia tersebut.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Ketika nilai dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan terhadap emas cenderung menurun. Kondisi tersebut juga diperparah oleh meningkatnya imbal hasil obligasi AS yang membuat instrumen investasi berbasis bunga menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain faktor dolar, lonjakan harga minyak dunia juga turut memengaruhi pergerakan pasar komoditas global, termasuk emas. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menembus 100 dolar AS per barel akibat konflik geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran meningkatnya inflasi global. Kondisi tersebut membuat bank sentral, terutama Federal Reserve AS, diperkirakan akan menahan kebijakan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi inilah yang turut menekan harga emas di pasar internasional.
Analis pasar komoditas menyebutkan bahwa meskipun emas biasanya diuntungkan dalam situasi ketidakpastian geopolitik, faktor ekonomi makro seperti penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi sering kali memberikan tekanan lebih besar terhadap harga logam mulia tersebut.
Sementara itu, lonjakan harga minyak juga memicu gejolak di berbagai pasar keuangan global. Sejumlah indeks saham utama di dunia mengalami penurunan akibat kekhawatiran investor terhadap potensi inflasi dan perlambatan ekonomi global jika konflik geopolitik terus berlanjut.
Meski demikian, sejumlah analis menilai penurunan harga emas saat ini masih bersifat sementara. Permintaan terhadap emas diperkirakan dapat kembali meningkat jika ketegangan geopolitik semakin memanas atau jika pasar mulai khawatir terhadap stabilitas ekonomi global.
Dalam jangka panjang, emas masih dianggap sebagai salah satu instrumen investasi yang relatif aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Pergerakan harga emas ke depan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, perkembangan konflik geopolitik, serta pergerakan harga komoditas energi di pasar dunia.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























