LEMBATA – Gunung Ile Lewotolok kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi dengan 58 kali letusan dalam satu malam, melemparkan lontaran lava pijar sejauh 300 meter dari kawah, Jumat (27/2/2026) dini hari. Aktivitas vulkanik yang intens ini telah memicu imbauan kewaspadaan kepada masyarakat di kawasan sekitar gunung api aktif tersebut.
Menurut laporan resmi dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tinggi kolom abu dari letusan gunung di Kabupaten Lembata itu teramati mencapai sekitar 250 meter di atas puncak, dengan asap berwarna kelabu hingga hitam yang condong ke arah timur. Selain itu, material vulkanik pijar terlihat meluncur ke sektor tenggara dengan jarak hingga 300 meter dari pusat letusan.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa erupsi terekam detil dalam data seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 21,2 mm dan durasi letusan rata-rata sekitar 30–33 detik per kejadian. Meskipun intensitas letusan relatif sedang, lonjakan frekuensi aktivitas menunjukkan bahwa gunung api ini masih sangat dinamis.
Saat ini Gunung Ile Lewotolok berada pada Status Level II (Waspada), yang berarti potensi bahaya masih signifikan. Badan Geologi menyarankan agar semua aktivitas, termasuk pendakian maupun kunjungan wisata, di dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung dihentikan sementara untuk menghindari risiko bahaya letusan lanjutan, guguran lava, atau awan panas.
Selain itu, warga juga diminta menggunakan pelindung seperti masker, kacamata, serta menutup tempat penyimpanan air agar tidak terkontaminasi abu vulkanik yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan iritasi mata atau kulit. Koordinasi terus dilakukan antara pemerintah daerah dan Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok untuk memberikan update aktivitas teranyar secara berkala kepada masyarakat.
Keaktifan Gunung Ile Lewotolok bukan fenomena baru. Sepanjang tahun-tahun sebelumnya, gunung ini tercatat sering mengalami letusan berskala kecil hingga sedang. Data MAGMA Indonesia mencatat puluhan hingga ratusan kali letusan dalam berbagai periode sebelumnya, termasuk erupsi yang meletus puluhan hingga ratus kali di sepanjang 2025.
Para ahli vulkanologi memperingatkan bahwa meskipun letusan saat ini tergolong moderate, aktivitas vulkanik yang sering terjadi menunjukkan adanya akumulasi energi di dalam sistem magmatik gunung api tersebut. Hal ini memerlukan pemantauan ekstra hati-hati, terutama saat gempa vulkanik atau tremor meningkat, karena itu dapat menjadi indikator terjadinya letusan lebih besar di masa depan.
Badan Geologi juga menegaskan kepada masyarakat di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut gunung untuk tetap siaga terhadap kemungkinan guguran lava atau awan panas yang dapat bergerak cepat dan berdampak jauh dari kawah. Warga di sejumlah desa di Kecamatan Ile Ape dan sekitarnya telah diingatkan agar tetap mengikuti arahan dan informasi dari otoritas setempat.
Fenomena gunung berapi aktif seperti Ile Lewotolok merupakan bagian dari cincin api Pasifik (Pacific Ring of Fire) yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan aktivitas vulkanik paling tinggi di dunia. Pemerintah melalui PVMBG terus memperkuat sistem mitigasi bencana dan edukasi publik tentang risiko erupsi.
Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan, namun perubahan pola aktivitas gunung tetap menjadi perhatian serius otoritas dan masyarakat. Update perkembangan dari Pemantauan Gunung Ile Lewotolok akan terus disampaikan seiring perkembangan kondisi vulkanik yang dinamis ini.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























