Jakarta – Pada masa tanggap darurat pasca-banjir dan longsor hebat di Pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat), sosok Ferry Irwandi mencuri perhatian publik lewat aksi solidaritasnya. Namun, di balik sukses penggalangan dana besar — Rp 10,3 miliar dalam 24 jam — Ferry mengungkap satu tantangan penting ketika hendak menyalurkan bantuan: kesulitan menemukan pesawat komersial untuk mengirim logistik ke wilayah terdampak.
Menurut Ferry, kendala utama adalah praktik sewa atau charter pesawat komersial yang “traffic-nol koma” (nyaris tidak tersedia). Upaya sewa yang dilakukan pun gagal mendapatkan slot. Karena itu, timnya sempat terkatung — membawa beban logistik berat tanpa kepastian akses udara. “Kemarin kita sempat kesulitan sekali menemukan angkutan udara karena traffic nol koma. Kita coba sewa pun di hari Kamis sulit,” ujarnya, sebagaimana dikutip media lokal.
Kendati demikian, cerita berakhir bahagia. Berkat kolaborasi dengan institusi keamanan dan negara — yakni Ditpolairud Korpolairud Baharkam Polri — bantuan yang dikumpulkan akhirnya bisa dikirim. Total sekitar 2,6 ton bantuan logistik berhasil diterbangkan ke Sumatera melalui pesawat milik Polri.
Distribusi bantuan ini menjadi angin segar bagi ribuan korban banjir dan longsor yang rumah, akses jalan, dan fasilitas umum mereka hancur. Ferry bersama tim relawan dari Malaka Project — serta dukungan dari masyarakat luas lewat 87.000 donatur — sadar bahwa proses distribusi tidak semudah penggalangan dana. Banyak titik terdampak berada di daerah terpencil dan isolasi, sehingga logistik bukan hanya soal uang, tetapi akses dan transportasi.
Ferry bahkan rela menunda operasi medis yang seharusnya dijalaninya, demi terjun langsung ke lokasi bencana dan memastikan donasi sampai ke tangan warga. Keputusan ini mendapat apresiasi luas di media sosial dan dari publik.
Menurutnya, aksi ini menunjukkan pentingnya sinergi antara masyarakat, influencer, lembaga kemanusiaan, serta aparat dalam penanganan bencana — terutama ketika akses logistik menjadi kendala utama. Ferry meminta agar pemerintah dan stakeholder memperhatikan distribusi bantuan ke daerah terpencil, serta mendukung jalur darat, udara, dan alternatif lain jika memungkinkan.
Sementara itu, kondisi di lapangan makin darurat. Bencana banjir dan longsor di Sumatera tercatat sebagai salah satu bencana paling parah tahun 2025 — dengan ribuan korban terdampak, infrastruktur rusak, dan akses ke banyak wilayah terputus.
Dengan donasi yang sudah terkumpul dan bantuan mulai didistribusikan, Ferry berharap langkah ini bisa sedikit meringankan beban korban — terutama mereka yang terdampak paling parah. Namun ia juga mengingatkan: solidaritas harus dilanjutkan, dan penyaluran bantuan tidak boleh berhenti sampai akses kembali pulih.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























