BENER MERIAH – Kerusakan lingkungan pascabencana yang melanda wilayah Sumatera kini mulai menunjukkan dampak nyata terhadap kelangsungan hidup satwa liar. Salah satu yang paling terdampak adalah ekosistem gajah Sumatera di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Perubahan bentang alam yang drastis akibat longsor dan pelebaran aliran sungai kini mengancam pola hidup dan habitat alami mamalia besar tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aliran Sungai Peusangan mengalami perluasan yang signifikan hingga mencapai lebar sekitar 200 meter di beberapa titik. Tidak hanya itu, tebing-tebing di sepanjang tepian sungai dilaporkan mengalami longsor parah. Kondisi ini menyulitkan kawanan gajah, baik gajah jinak yang dikelola oleh Conservation Response Unit (CRU) maupun gajah liar yang menghuni kawasan hutan sekitar.
Wahdi, seorang penjaga gajah jinak di CRU DAS Peusangan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perubahan perilaku gajah pascabencana. Menurutnya, gajah adalah hewan yang memiliki ingatan spasial luar biasa. Mereka cenderung setia pada rute perjalanan dan sumber air yang sama secara turun-temurun.
“Kondisi setelah bencana ini memang memicu perubahan pola perilaku gajah. Beberapa tempat mencari makan dan lokasi sumber air yang biasa dikunjungi kini hilang atau sulit diakses karena tertutup material longsor,” ujar Wahdi saat ditemui di lokasi, Minggu (22/2/2026).
Pelebaran sungai juga menjadi hambatan fisik yang nyata. Wahdi kerap menyaksikan kawanan gajah liar kesulitan menyeberangi aliran sungai yang kini lebih lebar dan memiliki arus yang tidak menentu. Tempat pemandian rutin untuk gajah jinak pun kini berubah menjadi tebing curam yang membahayakan keselamatan satwa.
Saat ini, CRU DAS Peusangan merawat tiga ekor gajah Sumatera jinak dengan rata-rata usia 35 tahun. Perawatan intensif terus dilakukan di tengah keterbatasan lingkungan. Para penjaga harus bekerja ekstra keras untuk memastikan gajah-gajah tersebut tetap mendapatkan nutrisi yang cukup dan latihan berjalan sesuai dengan habitat aslinya. Pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk pengecekan kondisi gigi dan kaki, dilakukan secara mandiri oleh tim CRU dengan peralatan seadanya.
Menanggapi ancaman krisis ekosistem ini, pemerintah pusat mulai mengambil langkah konkret. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menegaskan komitmennya untuk mendukung konservasi gajah Sumatera yang populasinya kian terancam. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah pemberian hibah lahan seluas 20.000 hektare kepada World Wildlife Fund (WWF) untuk memperluas area konservasi dan meminimalisir konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah Aceh.
Revitalisasi pascabencana di Bener Meriah tidak hanya harus fokus pada infrastruktur manusia, tetapi juga pada pemulihan jalur-jalur ekologi satwa. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, dikhawatirkan konflik ruang antara gajah dan warga sekitar akan meningkat akibat gajah yang mencari rute baru di luar habitat mereka yang kini telah rusak.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























