Bekasi — Di balik pemandangan gunungan sampah yang menjulang di Bantar Gebang, terdapat cerita hidup rakyat pekerja keras yang menjadikan limbah sebagai sumber pendapatan utama. Seorang pemulung bernama Andi berhasil mengubah pekerjaan yang selama ini dipandang sebagai aktivitas marginal menjadi peluang ekonomi yang produktif — dengan penghasilan mencapai sekitar Rp 30 juta per bulan dari hasil memilah, mengumpulkan, dan menjual bahan daur ulang.
Bantar Gebang, yang terletak di Kota Bekasi, Jawa Barat, dikenal sebagai salah satu tempat pembuangan akhir (TPA) terbesar di Indonesia — menampung limbah domestik dari Jakarta dan sekitarnya setiap harinya. Lokasi seluas lebih dari 110 hektar ini menerima ribuan ton sampah setiap hari, yang kemudian menjulang menjadi gunungan sampah raksasa.
Banyak warga sekitar atau migran dari berbagai daerah datang ke sini untuk mencari nafkah dengan cara memilah barang-barang yang masih bernilai ekonomi dari tumpukan limbah, seperti plastik, kertas, besi, dan aluminium. Harga jual komoditas ini berbeda-beda, misalnya plastik yang telah dicuci dan dikeringkan bisa bernilai lebih tinggi dibandingkan plastik yang masih kotor.
Dalam kesehariannya, Andi rutin mendaki gunungan sampah untuk mencari barang-barang yang layak jual. Biasanya ia fokus pada material plastik dan logam yang permintaannya cukup tinggi di pasar daur ulang. Meski pekerjaan ini terbilang berat dan penuh risiko — seperti paparan bau tak sedap, risiko luka dari benda tajam, hingga tantangan kesehatan lain — Andi menganggapnya sebagai mata pencaharian yang realistis di tengah tingginya biaya hidup di daerah metropolitan.
“Keuntungan paling besar biasanya datang dari plastik dan logam. Sekarang banyak pengepul yang mau membeli hasil memilah kita. Kalau kerja keras, bisa dapat puluhan juta per bulan,” ujar Andi dalam sebuah wawancara eksklusif yang memperlihatkan semangatnya menjalani kehidupan di area TPA.
Pendapatan seperti ini bukan hal yang umum di semua wisata pemulung — beberapa pemulung lain ada yang hanya meraih Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari, tergantung jenis limbah dan harga pasar saat itu. Namun bagi Andi, strategi yang terencana dalam memilih material dan jaringan dengan pengepul besar menjadikan pekerjaannya jauh lebih menguntungkan dibanding kebanyakan koleganya.
Pemulung lain yang berbagi pengalaman mengungkapkan bahwa masyarakat di Bantar Gebang juga sering membentuk kelompok kerja atau koperasi kecil untuk memperkuat posisi tawar mereka dengan pengepul. Hal ini membantu mereka mendapatkan harga yang lebih adil untuk produk yang dikumpulkan.
Walau demikian, pekerjaan memilah sampah bukan tanpa konsekuensi. Banyak pemulung menghadapi isiko kesehatan tinggi karena lingkungan kerja yang penuh bakteri, zat kimia, dan kondisi fisik yang ekstrem. Belum lagi ketidakpastian penghasilan di setiap bulannya akibat fluktuasi harga komoditas limbah di pasaran.
Pemerintah dan berbagai organisasi masyarakat kini mulai memperhatikan kehidupan para pemulung ini. Program seperti bank sampah, pelatihan keterampilan, dan jalur distribusi limbah yang lebih terstruktur diupayakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan sekaligus membantu mengurangi beban limbah di Bantar Gebang.
Kisah Andi menjadi contoh nyata bahwa di balik gunungan sampah yang tampak suram, ada peluang ekonomi dan kerja keras yang mampu membawa perubahan hidup signifikan — meskipun penuh tantangan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/






















