JAKARTA – Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah potongan video yang memperlihatkan seorang pria mengenakan jas almamater kuning tengah melakukan aksi provokatif terhadap aparat kepolisian. Insiden tersebut terjadi dalam unjuk rasa di depan Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/2/2026).
Setelah sempat menjadi spekulasi publik karena warna almamaternya yang identik dengan Universitas Indonesia (UI), kini identitas asli pria tersebut akhirnya terungkap.
Pihak Universitas Indonesia (UI) segera merespons kegaduhan tersebut dengan melakukan penelusuran internal. Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Erwin Panigoro, menegaskan bahwa individu dalam video tersebut bukan merupakan mahasiswa UI.
“Berdasarkan hasil komunikasi dan pengecekan bersama BEM serta penelusuran PDDIKTI, dapat dipastikan bahwa individu yang terdapat dalam video tersebut bukan merupakan mahasiswa UI,” ujar Erwin dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).
UI menyatakan keberatan atas penggunaan jas almamater kuning oleh pihak yang tidak berhak, karena berpotensi mencoreng citra institusi. Pihak kampus menekankan bahwa setiap aksi penyampaian pendapat harus dilakukan dengan menjaga etika dan nalar kritis yang bertanggung jawab.
Titik terang mengenai identitas pria tersebut muncul dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan PNJ, Nurul Intan Pratiwi, mengonfirmasi bahwa pria berinisial SB tersebut adalah mahasiswa aktif di institusinya.
Nurul menjelaskan bahwa kehadiran SB dalam aksi tersebut merupakan inisiatif pribadi dan bukan bagian dari rombongan resmi organisasi mahasiswa PNJ yang terkoordinasi. Pihak kampus menyayangkan tindakan emosional yang ditunjukkan SB dan berencana melakukan pemanggilan untuk proses pembinaan internal.
“PNJ meminta maaf atas peristiwa tersebut. Tindakan individu mahasiswa merupakan tanggung jawab personal dan akan ditindaklanjuti sesuai Kode Etik Mahasiswa,” jelas Nurul.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, SB mengungkapkan alasan di balik tindakannya yang terlihat meledak-ledak di depan petugas. Ia mengaku memiliki trauma masa lalu dengan oknum polisi yang saat itu sedang berjaga.
SB menceritakan bahwa pada demonstrasi akhir Agustus 2025, ia pernah mengalami tindakan kekerasan berupa pemukulan oleh oknum polisi berinisial S. Saat melihat wajah polisi yang berjaga di Mabes Polri tersebut mirip dengan pelaku yang memukulnya setahun lalu, emosinya tak terbendung.
“Wajah polisi yang berjaga saat aksi kemarin sangat mirip dengan sosok yang pernah memukul saya. Saya bahkan sempat merekamnya di ponsel,” ungkap SB saat memberikan penjelasan kepada awak media.
Aksi demonstrasi itu sendiri digelar oleh gabungan mahasiswa untuk menuntut reformasi di tubuh Polri menyusul tewasnya seorang pelajar berinisial AT di Tual, Maluku, yang diduga melibatkan oknum Brimob.
Di sisi lain, pengamanan oleh Polri saat itu menjadi sorotan karena personel menggunakan atribut religius berupa peci dan sorban putih. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa penggunaan atribut tersebut bertujuan untuk mengedepankan sisi humanis, mengingat aksi berlangsung di bulan suci Ramadhan.
Meskipun menyayangkan adanya aksi maki-maki dari oknum peserta, pihak kepolisian mengapresiasi massa yang pada akhirnya membubarkan diri dengan tertib tanpa merusak fasilitas umum.
Kini, kasus pria beralmamater kuning ini menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen mahasiswa untuk tetap menjaga marwah institusi pendidikan dalam setiap aksi penyampaian aspirasi di ruang publik.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/















