Jakarta — Peringatan dini kembali dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), setelah memprakirakan bahwa gelombang laut di sejumlah perairan nusantara bisa mencapai ketinggian ekstrem — hingga 6 meter — dalam beberapa hari ke depan.
Ancaman Ombak Ekstrem di Sejumlah Wilayah
Menurut informasi yang disampaikan, gelombang laut dengan tinggi antara 4–6 meter diprediksi terjadi di perairan seperti Samudra Hindia selatan pulau-pulau utama, Selat Badung, perairan selatan Bali, serta wilayah laut di sekitar selatan Jawa maupun NTB. BMKG memperingatkan bahwa kondisi ini berlangsung dalam periode paling tidak 5–8 Agustus 2025, dan bisa mempengaruhi aktivitas pelayaran, nelayan, hingga transportasi laut dan pariwisata pesisir.
Penyebab utama dari gelombang tinggi ini adalah pergerakan pola angin laut yang berubah — terutama angin dari arah tenggara ke barat daya — bersama dengan bibit siklon tropis di Samudra Hindia bagian barat daya yang memperkuat kecepatan angin dan menciptakan guncangan laut.
Siapa yang Harus Waspada?
BMKG secara tegas meminta masyarakat pesisir, nelayan, pengguna kapal kecil, kapal tongkang, kapal feri, serta pelaku transportasi laut lainnya untuk menunda kegiatan melaut, menyeberang, atau berlayar selama peringatan berlaku.
Tidak hanya itu, pengelola pelabuhan, penyedia jasa pariwisata bahari, dan wisatawan di daerah pantai juga disarankan untuk memantau perkembangan cuaca dan informasi maritim melalui kanal resmi BMKG. Perahu kecil dinilai sangat berisiko ketika gelombang menyentuh amplitude ekstrem seperti 4–6 meter.
Risiko dan Implikasi Jika Abaikan Peringatan
Gelombang tinggi dan angin kencang membawa ancaman serius: kapal bisa terbalik, kapal kecil tenggelam, rob di pesisir menyebabkan banjir laut, kerusakan fasilitas pelabuhan atau dermaga, dan keselamatan warga serta wisatawan terancam.
Belum lagi potensi arus kuat dan pusaran air yang bisa muncul — membuat aktivitas berenang, snorkeling, atau wisata laut sangat berbahaya.
Kondisi seperti ini juga dapat menggagalkan operasional pelayaran rute antar-pulau, merugikan nelayan, serta mempengaruhi logistik dan distribusi barang di wilayah pesisir.
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
BMKG mengimbau masyarakat untuk:
-
Pantau info cuaca maritim dan peringatan gelombang tinggi melalui website atau kanal resmi BMKG.
-
Tunda pelayaran, penyeberangan, atau aktivitas laut — termasuk nelayan dan wisata bahari — di wilayah terdampak.
-
Waspada terhadap tanda alam: angin kencang mendadak, gelapnya langit, atau air laut yang surut lalu mendadak naik — bisa menjadi petunjuk akan ombak besar atau rob.
-
Siapkan jalur evakuasi di pesisir dan pantai untuk mengantisipasi gelombang ekstrem, banjir laut, atau rob.
Waspada Terus, Jangan Sepelekan Peringatan
Fenomena cuaca maritim ekstrim seperti ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. BMKG secara periodik memperbarui data dan rilis peringatan bagi wilayah rawan — dari Samudra Hindia, perairan selatan Jawa dan Bali, hingga laut di sekitar NTT dan NTB.
Peringatan kali ini harus dianggap serius oleh seluruh masyarakat pesisir — baik nelayan, pelaku wisata, maupun warga pantai. Keselamatan dan kesiapsiagaan menjadi hal utama untuk menghadapi gelombang laut ekstrem yang diprediksi selama beberapa hari ke depan.
Semua pihak di pesisir diimbau untuk mematuhi instruksi dan terus memantau update cuaca dari BMKG. Keselamatan lebih penting daripada aktivitas laut sesaat.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
















