084871800_1762766172-Menteri_ESDM_Bahlil_Lahadalia-2
Bahlil Jelaskan Kenapa Listrik Aceh Masih Padam: Infrastruktur Rusak & Risiko Keselamatan Warga Jadi Tantangan Utama

JakartaMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui bahwa pasokan listrik di Provinsi Aceh yang terdampak banjir dan longsor besar belum sepenuhnya pulih. Dalam laporan ke Presiden Prabowo Subianto di Sidang Kabinet Paripurna, Bahlil mengatakan masih terdapat kendala teknis dan situasi lapangan yang membuat proses pemulihan berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Menurut Bahlil, sebagian wilayah Aceh masih mengalami banjir dan tingkat infrastruktur kelistrikan yang rusak cukup parah. Tiang-tiang listrik roboh, jaringan transmisi terputus, dan akses jalan yang terendam membuat petugas tidak bisa memaksa menyambungkan listrik secara paksa. Hal ini tidak hanya menghambat pemulihan, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan bagi warga jika listrik diaktifkan dalam kondisi belum aman.

“Kalau ini kita paksakan untuk dialiri listrik, itu akan berdampak pada kecelakaan di masyarakat,” ujar Bahlil yang melaporkan kondisi terkini pemulihan listrik Aceh kepada Presiden. Ia menegaskan bahwa walaupun sejumlah area telah kembali mendapatkan pasokan listrik, masih banyak desa dan kecamatan terpencil yang belum bisa diakses oleh tim teknis listrik.

Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 1,7 juta pelanggan listrik terdampak bencana Sumatera, dengan hampir 200 ribu pelanggan di antaranya masih belum menikmati listrik kembali. Di Aceh sendiri, sejumlah titik transmisi masih belum pulih akibat kerusakan fisik dan kondisi banjir yang belum sepenuhnya surut.

Upaya pemulihan terus dilakukan oleh pemerintah bersama PT PLN (Persero). Sebelumnya, pemerintah memastikan sebagian besar distribusi listrik kembali normal di beberapa kabupaten seperti Banda Aceh, Aceh Besar, dan Lhokseumawe setelah jaringan transmisi darurat dibangun. Namun titik-titik lain, terutama di daerah pedalaman, masih mengalami pemadaman akibat isolasi wilayah dan kerusakan jaringan.

Selain itu, adanya laporan awal yang menyebut pemulihan mencapai puluhan persen sempat memicu kritik dari masyarakat dan kelompok relawan karena realitas di lapangan masih menunjukkan kegelapan listrik di beberapa desa. Hal ini kemudian diklarifikasi oleh PLN yang menyampaikan permohonan maaf atas ketidakakuratan data sebelumnya dan berjanji memperbaiki progres pemulihan secepat mungkin.

Tantangan besar dalam proses ini ialah kombinasi faktor alam dan teknis: selain banjir yang masih tersisa di beberapa titik, jalan menuju lokasi kritis juga belum bisa dilewati dengan aman, membuat mobilisasi peralatan dan teknisi listrik menjadi lambat. Pemerintah dan PLN telah mengerahkan berbagai upaya darurat, termasuk penggunaan genset, transmisi darurat, serta perbaikan menara listrik yang roboh.Sementara itu, warga di sejumlah wilayah berharap proses pemulihan energi bisa dipercepat, terutama untuk mendukung kebutuhan dasar seperti penerangan, alat komunikasi, dan kegiatan ekonomi pascabanjir yang masih berlangsung. Pemerintah terus memasang prioritas pada keselamatan warga dan memperhitungkan risiko teknis sebelum menyambungkan kembali jaringan listrik yang terputus.

Meski belum sepenuhnya pulih, langkah koordinasi antara pemerintah pusat, otoritas lokal, dan PLN tetap berjalan intensif demi memastikan kebutuhan listrik di Aceh bisa kembali normal dengan aman dan berkelanjutan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/