JAKARTA – Penanganan masalah banjir di wilayah Jabodetabek dinilai tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral atau terbatas pada batas administratif semata. Menanggapi intensitas hujan tinggi yang memicu genangan di berbagai titik, Pramono Anung mengusulkan penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) secara lebih luas, mencakup wilayah penyangga mulai dari Tangerang hingga Bekasi.
Langkah ini dianggap krusial karena pergerakan awan hujan yang melintasi Jakarta sering kali berasal dari wilayah sekitar, sehingga pencegahan harus dimulai sejak di hulu dan area aglomerasi.
Pentingnya Sinergi Antarwilayah
Pramono menekankan bahwa awan hujan tidak mengenal batas wilayah kabupaten atau kota. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, Banten, dan Jawa Barat menjadi kunci keberhasilan mitigasi bencana tahun 2026 ini.
Beberapa poin utama dari usulan modifikasi cuaca ini meliputi:
-
Penyemaian Awan di Hulu: Melakukan penyemaian garam di wilayah Tangerang dan Bekasi agar hujan turun lebih awal di area yang bukan pemukiman padat atau langsung ke laut.
-
Mengurangi Beban Drainase: Dengan berkurangnya intensitas hujan yang masuk ke wilayah perkotaan, beban saluran air dan sungai-sungai besar seperti Kali Bekasi dan Cisadane dapat lebih terkendali.
-
Pemanfaatan Data BMKG & BRIN: Menggunakan pemetaan radar cuaca terbaru untuk menentukan titik koordinat penyemaian yang paling efektif setiap harinya.

TMC sebagai Solusi Jangka Pendek yang Efektif
Di tengah proses pengerjaan infrastruktur jangka panjang seperti sodetan dan normalisasi sungai yang masih berjalan, TMC dipandang sebagai solusi “taktis” yang hasilnya bisa dirasakan langsung oleh warga Bekasi, Tangerang, dan Jakarta.
“Banjir ini masalah bersama. Jika kita bisa memodifikasi cuaca di wilayah penyangga seperti Tangerang hingga Bekasi, kita bisa meminimalisir volume air yang masuk ke titik-titik rawan genangan secara signifikan,” ungkap Pramono Anung pada Kamis (22/1/2026).
Harapan Warga Aglomerasi
Masyarakat di wilayah Bekasi dan Tangerang menyambut positif usulan ini, mengingat kedua wilayah tersebut juga sering terdampak banjir kiriman maupun banjir lokal. Warga berharap pemerintah daerah dapat segera menindaklanjuti usulan ini dengan penyediaan anggaran dan armada pesawat penyemai yang memadai.
Keberhasilan modifikasi cuaca ini diharapkan tidak hanya mengurangi risiko banjir, tetapi juga menjaga kelancaran roda ekonomi di kawasan industri dan pusat bisnis yang sering kali lumpuh saat akses jalan terendam air.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























