Jakarta — Sebuah insiden penganiayaan yang memicu keprihatinan publik terjadi di kawasan SPBU 3413901 Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Seorang operator stasiun pengisian bahan bakar menjadi korban kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh seorang pria yang mengaku sebagai aparat, sehingga menyebabkan giginya patah dan penderitaan berkepanjangan, termasuk saat berbuka puasa.
Peristiwa itu berlangsung pada Minggu malam sekitar pukul 22.00 WIB (22 Februari 2026) ketika tiga pegawai SPBU tengah bertugas di lokasi. Ketiga korban terdiri atas dua operator dan satu staf yang bekerja melayani konsumen. Menurut pernyataan korban dan saksi, awal kejadian dipicu oleh cekcok antara pelaku dengan salah satu rekan kerja korban yang terjadi di area depan SPBU.
Salah satu operator, Abud Mahmudin (28), mengalami luka paling parah. Ia menceritakan bahwa dirinya tidak terlibat dalam perdebatan yang terjadi, tetapi hanya ingin melihat situasi ketika terjadi keributan. Namun, tanpa diduga pelaku justru melayangkan pukulan keras yang membuat giginya patah hingga separuh dan mengalami pendarahan karena saraf terkena hantaman.
“Gigi saya patah jadi setengah doang, tidak rata. Berdarah karena sarafnya kena pas dihajar bagian pipi,” ungkap Abud kepada wartawan di lokasi kejadian. Ia kemudian menjelaskan bahwa pukulan pertama mengenai mata dan membuatnya terguncang, setelah itu pelaku kembali menyerang bagian pipi serta belakang telinga.
Akibat cedera tersebut, Abud mengalami kesulitan serius dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk makan dan berbicara. Nyeri yang dirasakan bahkan semakin terasa saat ia berpuasa di bulan Ramadan, membuat aktivitas buka puasa menjadi pengalaman yang menyakitkan secara fisik dan emosional.
Sementara itu, rekan kerja lainnya juga mengalami luka memar akibat serangan. Ahmad Khoirul Anam dan Lukmanul Hakim melaporkan sakit di bagian pipi dan rahang setelah ditampar pelaku yang konon mengklaim dirinya adalah seorang aparat dengan jabatan tinggi.
Pemilik SPBU, Ernesta, menyatakan telah secara resmi melaporkan kejadian ini ke Polsek Pulogadung dan memastikan bahwa ketiga pegawainya sudah menjalani visum medis. Lebih lanjut, ia berharap pihak berwajib dapat mengusut tuntas kasus ini dan menghadirkan rasa aman bagi para pekerja yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Pihak Propam Polda Metro Jaya juga telah mendatangi lokasi kejadian untuk mengumpulkan bukti dan menelusuri identitas pelaku yang disangkakan sebagai aparat. Kepolisian Daerah Metro Jaya melalui Polres Jakarta Timur dan Ditreskrimum menyatakan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan untuk memastikan motif serta peran pelaku sebenarnya.
Para korban mengaku sempat tidak berani masuk kerja pada hari berikutnya karena takut pelaku kembali datang. Ketakutan ini menunjukkan dampak psikologis yang dirasakan oleh para petugas, bukan hanya luka fisik semata. “Kami sempat libur kerja karena takutnya pelaku datang lagi ke lokasi,” kata salah satu korban lainnya.
Insiden ini menjadi sorotan karena mengangkat isu penting mengenai keamanan pekerja di layanan publik, terutama di tengah ramainya aktivitas warga yang membutuhkan layanan SPBU setiap hari. Banyak kalangan masyarakat berharap pihak berwajib dapat memberikan klarifikasi resmi, terutama terkait latar belakang oknum yang diduga melakukan kekerasan tersebut.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/





















