Jakarta — Belakangan ini, tantangan dalam mencari pekerjaan setelah lulus bagi generasi Z (lahir 1997–2012) semakin nyata dan menjadi perbincangan publik. Tidak hanya data statistik yang menunjukkan angka pengangguran muda yang tinggi, tapi juga dinamika pasar kerja yang berubah cepat turut menyulitkan lulusan baru untuk masuk ke dunia profesional.
Sejumlah pakar tenaga kerja dan data terbaru menunjukkan bahwa sulitnya mencari pekerjaan bagi Gen Z bukan sekadar isu lokal, melainkan fenomena global. Misalnya, data dari asosiasi pengusaha di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan generasi muda masih cukup tinggi menjelang 2026. Ini menjadi “pekerjaan rumah” besar bagi pemerintah dan pelaku industri untuk memperbaiki kondisi pasar kerja yang stagnan.
Selain itu, kesulitan ini juga dilaporkan secara internasional. Di beberapa negara maju, lulusan baru Gen Z harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan pelamar untuk setiap lowongan entry-level yang tersedia. Dalam kasus di Inggris, misalnya, sekitar 1,2 juta lulusan Gen Z bersaing untuk hanya puluhan ribu posisi terbuka.
Apa yang menjadi penyebabnya? Perubahan struktur ekonomi dan teknologi dinilai sebagai salah satu faktor utama. Beberapa ahli mengatakan bahwa kebutuhan industri kini berubah sangat cepat, sementara pendidikan formal tidak selalu bisa beradaptasi dalam waktu yang sama. Sebagai contoh, keterampilan yang dibutuhkan perusahaan — seperti kemampuan digital lanjutan, pemahaman data analitik, hingga pemrograman — semakin mendominasi. Padahal banyak lulusan masih belum terlatih dalam bidang tersebut saat memasuki pasar kerja.
Lebih parah lagi, banyak perusahaan yang mengutamakan pengalaman kerja, bahkan untuk posisi entry-level. Ini menyebabkan lulusan baru yang masih minim pengalaman justru terpinggirkan. Sedangkan persyaratan pekerjaan sering kali mensyaratkan pengalaman minimal beberapa tahun — paradoks yang membuat pencari kerja makin frustrasi.
Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia juga pernah menyatakan bahwa beberapa perusahaan enggan merekrut Gen Z karena mereka menilai soft skill generasi ini masih kurang, terutama dalam komunikasi, kerjasama tim, dan profesionalisme di tempat kerja. Kondisi ini memperburuk peluang Gen Z untuk mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus.
Fenomena lain adalah menguatnya peran side hustles atau pekerjaan sampingan di kalangan generasi muda. Banyak Gen Z yang memilih menjalani pekerjaan freelance, magang tidak dibayar, atau usaha kecil sendiri untuk tetap produktif, karena pekerjaan standar full-time semakin sulit diraih. Di beberapa negara, artikel internasional bahkan menyebut fenomena ini sebagai “neraka baru dunia kerja” bagi Gen Z.
Namun, bukan berarti semua berita buruk. Beberapa ahli menyarankan agar generasi Z meningkatkan keterampilan secara mandiri atau melalui upskilling serta sertifikasi digital untuk menambah nilai di pasar kerja. Fokus ke keterampilan yang dibutuhkan industri saat ini — seperti teknologi, data, AI, dan kemampuan kolaboratif — bisa membuka peluang lebih luas dibanding sekadar mengandalkan ijazah.
Seiring kondisi pasar kerja yang terus berubah, tantangan yang dihadapi Gen Z juga menjadi cermin bagi pembuat kebijakan dan institusi pendidikan untuk berkolaborasi lebih erat dengan industri, sehingga lulusan baru lebih siap menghadapi tuntutan dunia kerja modern.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/





















