Jakarta — Harga minyak dunia kembali turun pada perdagangan terbaru, setelah sebelumnya sempat menguat di tengah kekhawatiran atas ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pergerakan ini menunjukkan sensitivitas pasar energi global terhadap dinamika konflik di Timur Tengah, sekaligus langkah pelaku pasar untuk meredakan risiko yang sempat terakumulasi dalam harga komoditas energi utama tersebut.
Data perdagangan internasional menunjukkan bahwa pada perdagangan Selasa (10/2/2026), harga acuan Brent crude turun sekitar 25 sen menjadi US$68,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 23 sen ke US$64,13 per barel. Penurunan ini terjadi menyusul laporan yang menunjukkan adanya gerakan negosiasi serta langkah-langkah diplomatik yang meredakan kekhawatiran pasar akan kemungkinan gangguan pasokan minyak akibat konflik bersenjata.
Geopolitik AS‐Iran dan Reaksi Pasar
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran telah menjadi katalis utama bagi fluktuasi harga minyak dalam beberapa minggu terakhir. Sejak awal Februari, berita tentang pandangan keras di sekitar kebijakan luar negeri AS terhadap program nuklir Iran telah mendorong premi risiko dalam harga minyak. Bahkan, baru beberapa hari sebelumnya harga minyak sempat meningkat lebih dari 1% setelah insiden militer di kawasan tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Namun, seiring mereda harapan akan eskalasi konflik — khususnya dengan adanya komitmen kedua negara untuk melanjutkan pembicaraan tidak langsung di Oman — pasar mulai menghapus sebagian risiko geopolitik yang sempat mendorong harga lebih tinggi. Hal ini yang kemudian mendorong koreksi harga pada awal pekan ini.
Faktor Pasokan dan Permintaan
Selain pengaruh geopolitik, fundamental pasar minyak juga turut memperngaruhi pergerakan harga. Meskipun terdapat penurunan produksi dari beberapa negara produsen utama seperti Nigeria dan Libya, yang berkontribusi terhadap penurunan output OPEC secara keseluruhan, pasar masih melihat cukup pasokan relatif aman dalam jangka pendek.
Selain itu, sejumlah analis juga mencatat bahwa minyak telah mencerminkan harga premi risiko konflik yang cukup tinggi di masa lalu, sehingga pasar kini sedang menilai ulang apakah premi tersebut masih diperlukan ketika prospek dialog diplomatik antara AS dan Iran mendapatkan momentum positif.
Respons Pelaku Pasar
Trader minyak global mengatakan bahwa volatilitas harga minyak yang terlihat sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar yang bergerak cepat berdasarkan berita geopolitik terbaru. Ketika kekhawatiran akan gangguan pasokan meningkat, harga naik tajam, namun ketika harapan akan negosiasi meningkat, premi risiko tersebut cenderung terhapus.
Para pelaku pasar kini juga memperhatikan keputusan kebijakan dari negara-negara OPEC+, serta data stok minyak yang dapat mempengaruhi harga lebih lanjut dalam beberapa minggu ke depan. Jika ketegangan internasional mereda lebih jauh, kemungkinan harga minyak dapat mengalami koreksi lebih dalam — namun jika konflik kembali meningkat, premi risiko besar akan kembali dibangun oleh pelaku pasar.
Dampak Terhadap Konsumen dan Ekonomi
Penurunan harga minyak berpotensi menekan harga bahan bakar di tingkat konsumen jika tren ini berlanjut. Hal ini bisa memberikan sedikit ruang bagi inflasi energi yang telah menjadi tekanan utama bagi banyak negara saat ini. Namun, analis memperingatkan bahwa pasar minyak tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik berikutnya, khususnya jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Dengan demikian, harga minyak yang kembali turun kali ini mencerminkan perilaku pasar yang terus mencoba menyeimbangkan risiko geopolitik dengan kondisi pasokan dan permintaan global — namun volatilitas kemungkinan masih akan terus berlanjut.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























