melihat-persiapan-operasi-modifikasi-cuaca-di-jawa-barat-1741671635352_169
BNPB Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca di Jabodetabek hingga 3 Februari, Hujan Ekstrem Diperkirakan Masih Bertahan

JakartaBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus diperpanjang di wilayah Jabodetabek sampai 3 Februari 2026 guna meredam risiko hujan ekstrem dan mengurangi potensi banjir yang diperkirakan masih akan terjadi seiring puncak musim hujan. Keputusan diperpanjang ini diambil berdasarkan rekomendasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta situasi ancaman cuaca yang terus berubah secara dinamis.

Operasi modifikasi cuaca merupakan upaya cloud seeding yang dilakukan dengan menaburkan bahan kimia tertentu ke dalam awan untuk mengatur distribusi hujan. BNPB telah menambah armada dan intensitas operasi sesuai eskalasi potensi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek sejak awal Januari lalu. “Rencana (sampai) 3 Februari 2026 (sesuai situasi dan kondisi ancaman cuaca yang ada),” ujar Kepala BNPB Letjen Suharyanto di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Armada dan Logistik OMC

Sejak dimulai pada 12 Januari 2026, operasi modifikasi cuaca melibatkan total empat pesawat yang dikerahkan di wilayah Jabodetabek. Dua unit pesawat ditempatkan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung dan dua lainnya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Armada tersebut mengangkut bahan semai seperti sodium chloride (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) yang berfungsi merangsang turunnya curah hujan di wilayah yang diprediksi berpotensi hujan ekstrem.

Sejauh ini, BNPB mencatat operasi OMC telah melakukan 152 sortie penerbangan, dengan total 83,2 ton NaCl dan 49 ton CaO disemai ke awan yang potensial. Penambahan armada bahkan dilakukan dengan dukungan satu pesawat Cassa TNI AU yang bergabung dalam operasi sejak awal pekan.

Efektivitas Operasi

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyatakan bahwa OMC yang berjalan di Jabodetabek cukup efektif dalam menekan intensitas curah hujan. Menurut BMKG, wilayah tersebut mengalami penurunan curah hujan mencapai sekitar 35% dibanding periode tanpa operasi modifikasi cuaca. Meskipun angka ini bersifat laporan awal, langkah tersebut dianggap berkontribusi menekan dampak hujan ekstrem yang dapat memicu banjir di area padat penduduk.

BMKG juga mengingatkan bahwa Februari merupakan puncak musim hujan secara klimatologis di Jabodetabek berdasarkan data historis. Hal ini menjadi salah satu alasan perpanjangan OMC agar mitigasi tetap berjalan selama periode ancaman tinggi.

Tujuan Mitigasi dan Mitigasi Bencana

Operasi Modifikasi Cuaca dijalankan sebagai upaya mitigasi risiko bencana hidrometeorologi, bukan untuk menghentikan semua hujan. BMKG dalam siaran pers menyatakan bahwa OMC memiliki dasar ilmiah yang kuat dan dilakukan untuk mengantisipasi risiko banjir atau genangan yang bisa berdampak luas di kawasan permukiman dan infrastruktur penting.

BMKG juga menepis sejumlah narasi yang beredar di media sosial yang menyebut OMC justru memperparah cuaca atau memindahkan hujan secara merugikan. BMKG menegaskan bahwa fenomena alam seperti cold pool (massa udara dingin) adalah bagian dari proses alami hujan, bukan akibat dari OMC secara langsung.

Sementara itu, BPBD DKI Jakarta dan TNI Angkatan Udara turut berkoordinasi dalam pelaksanaan penyemaian awan secara teratur, dengan penentuan lokasi dan waktu yang disesuaikan dengan perkembangan cuaca serta analisis meteorologi harian.

Waspada Hujan Masih Tetap Diperlukan

Meskipun data menunjukkan penurunan intensitas hujan selama beberapa fase pelaksanaan OMC, warga Jabodetabek diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat dan tetap mengikuti informasi terkini dari BMKG. Hujan ekstrem yang tetap mungkin terjadi selama puncak musim hujan bisa berdampak pada genangan dan banjir, terutama di kawasan dengan sistem drainase yang kurang optimal.

Perpanjangan operasi ini diharapkan mampu meminimalkan dampak langsung hujan ekstrem sekaligus memberikan waktu bagi masyarakat untuk melakukan tindakan pencegahan sejak dini, terutama di wilayah yang rawan banjir serta memiliki mobilitas tinggi.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/