Limapuluh Kota, Sumatera Barat — Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan yang muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota telah menarik perhatian publik setelah banyak warga datang mengambil air dari dalam lubang tersebut. Namun, peristiwa ini bukan hanya menjadi tontonan semata — pemerintah daerah kini memperingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi air tersebut tanpa proses yang benar, karena kualitasnya tidak aman untuk diminum.
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, turun langsung ke lokasi dan menyatakan bahwa berdasarkan hasil kajian awal dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan pemeriksaan Dinas Kesehatan, air dari dalam sinkhole menunjukkan kandungan bakteri E-Coli yang cukup tinggi. Karena itu, air tersebut dinilai tidak layak dikonsumsi secara langsung.
Dijelaskan bahwa parameter Potential of Hydrogen (pH) air tersebut berada di bawah angka dasar 6,5, yang menunjukkan kondisi kualitas yang berbeda dari air minum standar. Wagub menegaskan bahwa masyarakat harus memahami bahwa air itu bukan air obat atau air ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit — klaim seperti itu tidak memiliki dasar ilmiah dan dapat menyesatkan.
Isi Air & Risiko Kesehatan
Temuan yang disampaikan oleh pejabat daerah menyebutkan bahwa meskipun kandungan total zat terlarut (TDS) dan kadar besi (Fe) dalam air sinkhole masih dalam kategori aman, kadar bakteri yang tinggi menjadi fokus utama kekhawatiran. Bakteri E-Coli umumnya menjadi indikator pencemaran bakteri yang berasal dari sumber tanah atau kotoran, sehingga bisa menyebabkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi tanpa dimasak atau diolah terlebih dahulu.
“Air ini bukan seperti air sumur atau air mineral yang bisa langsung diminum. Ibaratnya seperti air sungai pada umumnya,” kata Wagub Vasko kepada warga yang berkumpul di sekitar lokasi.
Fenomena Alam & Kepercayaan Masyarakat
Fenomena sinkhole sendiri merupakan kejadian alamiah yang bisa terjadi di banyak wilayah, terutama di daerah dengan karakteristik batuan dasar tertentu seperti batu kapur. Badan Geologi telah turun tangan dan mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena ini dengan mitos atau cerita mistis, termasuk tidak menarik kesimpulan bahwa air yang keluar dapat memberikan khasiat kesehatan tertentu tanpa dukungan bukti ilmiah.
Meski begitu, sejumlah warga masih datang ke lokasi untuk mengambil air dari dalam lubang dengan cara menampungnya di botol atau jerigen. Viral di media sosial menunjukkan banyak orang berbondong-bondong mengantre demi mendapatkan air tersebut, yang kemudian digunakan untuk diminum atau dibawa pulang. Kondisi ini mendorong pemerintah dan instansi terkait untuk lebih gencar mensosialisasikan imbauan keselamatan.
Upaya Pengamanan & Edukasi
Selain memperingatkan soal kualitas air, Wagub juga menekankan pentingnya menjaga jarak aman dari sekitar bibir sinkhole, mengingat struktur tanah di area tersebut masih tidak stabil dan berpotensi mengalami amblas lebih lanjut. Sebelumnya, telah dipasang garis polisi dan batas aman minimal 50 meter dari tepi lubang sebagai langkah awal pengamanan.
Pemerintah Provinsi Sumbar bersama dengan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, BPBD dan Badan Geologi terus melakukan pemantauan serta kajian lanjutan untuk memastikan keselamatan masyarakat serta memberikan rekomendasi teknis berdasarkan kajian ilmiah yang lebih lengkap.
Imbauan Akhir
Warga diimbau untuk tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak valid di media sosial atau kabar angin yang menyatakan bahwa air sinkhole memiliki khasiat penyembuhan. Semua klaim tersebut telah ditepis oleh pejabat daerah dan ahli, yang menyatakan bahwa fenomena tersebut murni proses alam biasa dan bukan sumber air yang aman untuk dikonsumsi langsung.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























