BEKASI – Di balik kemegahan bangunan baru Stasiun Bekasi yang modern, tersimpan masalah infrastruktur penunjang yang membuat pusing ribuan penglaju (commuter).
Keterbatasan lahan parkir resmi di area stasiun menjadi sorotan tajam. Kapasitas kantong parkir yang disediakan pihak pengelola dinilai tidak sebanding dengan lonjakan volume penumpang KRL yang terus meningkat setiap harinya, terutama di jam sibuk pagi hari.
Dilema “Anker”: Masuk Penuh, di Luar Liar
Kondisi ini menempatkan para pengguna motor dalam posisi dilematis. Saat area parkir resmi di dalam stasiun sudah dinyatakan penuh (full booked) sejak pagi buta, mereka tidak memiliki pilihan lain selain memarkirkan kendaraannya di luar area stasiun.
Akibatnya, bermunculan kantong-kantong parkir informal di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda dan gang-gang perkampungan warga sekitar.
“Kalau kesiangan sedikit, parkiran dalam pasti ditutup palangnya. Mau enggak mau parkir di luar, daripada telat kerja. Risikonya ya motor kepanasan atau was-was keamanan,” keluh salah satu pengguna KRL yang ditemui di lokasi.

Pemicu Kesemrawutan Kota
Melubernya parkir motor hingga ke bahu jalan dan trotoar ini berdampak langsung pada kelancaran lalu lintas. Jalan Juanda yang merupakan nadi utama Kota Bekasi kerap mengalami penyempitan jalur (bottleneck), terutama saat jam berangkat dan pulang kerja.
Pejalan kaki pun menjadi korban karena trotoar yang seharusnya menjadi hak mereka, kini beralih fungsi menjadi barisan parkir motor.
Butuh Solusi Jangka Panjang
Para pengamat tata kota dan warga berharap ada solusi konkret dari pihak PT KAI maupun Pemerintah Kota Bekasi. Revitalisasi stasiun seharusnya dibarengi dengan penyediaan gedung parkir bertingkat atau Park and Ride yang memadai.
Jika tidak segera dibenahi, wajah Stasiun Bekasi akan terus identik dengan kesemrawutan, kontras dengan fasilitas keretanya yang sudah modern.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























