Jakarta – merika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap kelompok ISIS (Islamic State) di Suriah sebagai bentuk balasan atas serangan yang menewaskan tiga orang Warga AS dalam sebuah ambush di Palmyra pada pertengahan Desember 2025. Operasi udara yang dikenal sebagai Operation Hawkeye Strike itu menargetkan lebih dari 70 titik yang diyakini menjadi basis militan hingga infrastruktur senjata ISIS di wilayah Suriah bagian tengah.
Operasi tersebut melibatkan berbagai aset militer modern, termasuk pesawat tempur F-15 Eagle, pesawat serbu A-10 Thunderbolt II, helikopter serang Apache, serta sistem roket HIMARS untuk menghantam lokasi-lokasi yang diperkirakan menampung anggota ISIS atau fasilitas pendukungnya. Serangan ini juga menunjukkan koordinasi tinggi antara Amerika dengan sekutunya, termasuk pesawat tempur dari Yordania yang turut berpartisipasi dalam misi tersebut.
Pemerintah AS menyatakan bahwa serangan ini merupakan respons tegas atas sebuah serangan mematikan yang terjadi pada 13 Desember 2025 di kota bersejarah Palmyra, tempat pasukan AS sedang bekerja bersama milisi lokal untuk menekan sisa-sisa kekuatan ISIS. Dalam insiden tersebut, dua tentara AS dan satu penerjemah sipil tewas akibat sebuah ambush yang dilakukan oleh seorang pelaku yang diyakini terkait dengan ISIS.
Reaksi militer AS menandai salah satu operasi anti-ISIS terbesar dalam beberapa waktu terakhir di Suriah. Menurut pernyataan pejabat Pentagon dan Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan ini tidak dimaksudkan sebagai awal perang baru, tetapi lebih sebagai tindakan balasan yang kuat untuk menunjukkan tekad Amerika dalam menghadapi ancaman teror serta melindungi pasukannya di luar negeri. “Ini bukan permulaan perang, ini adalah deklarasi balas dendam,” ujar Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam keterangan media.
Presiden Donald Trump juga mengeluarkan pernyataan yang tegas, menyebut operasi tersebut sebagai balasan “sangat serius” atas kematian tiga warga AS. Trump menegaskan bahwa pemerintahannya akan terus mengambil langkah tegas terhadap siapa pun yang menyerang atau mengancam warga Amerika, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Serangan udara ini menyoroti kembali kenyataan bahwa meskipun kekhalifahan teritorial ISIS runtuh beberapa tahun lalu, sisa jaringan kelompok tersebut masih aktif dan berupaya melakukan serangan efek tinggi terhadap pasukan internasional dan sekutunya di wilayah konflik seperti Suriah. Puluhan target yang dihantam mencakup pusat komando, gudang senjata, dan titik logistik yang diyakini masih digunakan oleh kelompok teroris tersebut.
Sementara itu, pemerintah Suriah yang sekarang dipimpin oleh koalisi baru pasca-runtuhnya rezim sebelumnya juga menyatakan dukungan terhadap serangan Udara Amerika Serikat sebagai upaya bersama untuk memberantas ISIS. Dukungan ini menjadi simbol kolaborasi militer antara pasukan Suriah dengan koalisi internasional dalam menghadapi ancaman teror yang masih mengintai.
Operasi ini terjadi di tengah kehadiran sekitar 1.000 pasukan AS di Suriah sebagai bagian dari misi melawan ISIS dan kekuatan ekstremis lainnya. Meski AS telah secara signifikan mengurangi kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, ancaman teror terus mendorong operasi militer yang menjadi bukti bahwa pemberantasan kelompok seperti ISIS belum sepenuhnya selesai.
Dengan langkah militer yang masif ini, Washington berharap dapat menghantam sisa-sisa kekuatan ISIS sekaligus memberikan peringatan tegas kepada kelompok teroris bahwa setiap serangan terhadap warga atau pasukan AS akan direspons dengan kekuatan penuh.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























