Bekasi — Di balik gunungan sampah raksasa di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, terdapat kehidupan keras ribuan pemulung yang berkutat setiap hari dengan tumpukan limbah dalam upaya mencari nafkah. Diperkirakan sekitar 6.360 pemulung mengandalkan aktivitas memilah sampah sebagai sumber penghidupan utama mereka — pekerjaan yang penuh risiko namun krusial untuk ekonomi keluarga dan sistem daur ulang informal di kawasan itu.
Gunungan sampah di Bantar Gebang, yang menampung limbah domestik dari Jakarta dan Bekasi, telah menjadi ikon urban masalah sampah Indonesia — dengan volume sampah yang terus bertambah setiap harinya. TPST ini diperkirakan menerima ribuan ton sampah setiap hari, yang kemudian menciptakan kawasan luas tempat pemulung bekerja keras memilah bahan yang masih bernilai ekonomi, seperti plastik, kertas, dan logam.
Para pemulung ini bekerja dari pagi hingga sore, menyusuri gunungan sampah setinggi puluhan meter demi mendapatkan material yang bisa dijual. Setiap hari, satu pemulung dapat mengumpulkan antara 1–2 kuintal sampah yang bernilai jual, berkontribusi signifikan terhadap proses daur ulang meski tanpa perlindungan sosial memadai.
Namun, pekerjaan ini bertaruh nyawa. Risiko cedera akibat benda tajam, paparan bau dan zat kimia, serta ancaman kesehatan jangka panjang menjadi bagian dari keseharian mereka. Banyak pemulung tidak memiliki perlengkapan keselamatan kerja seperti sarung tangan tebal atau masker yang layak, sementara akses terhadap layanan kesehatan dan jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan hanya tersedia bagi sebagian kecil yang tergabung dalam komunitas formal seperti Ikatan Pemulung Indonesia (IPI).
Kondisi ini memunculkan seruan dari berbagai pihak agar pemerintah daerah dan pemangku kebijakan lebih memperhatikan kesejahteraan pemulung, termasuk pendataan yang akurat, akses perlindungan sosial, serta fasilitas kesehatan yang layak. Para ahli juga menyoroti bahwa meskipun kontribusi pemulung terhadap pengurangan sampah cukup besar, belum ada jaminan kesejahteraan yang sebanding dengan usaha yang mereka lakukan.
Meski demikian, pekerjaan memilah sampah tetap menjadi mata pencaharian penting bagi banyak keluarga yang tidak memiliki alternatif pekerjaan lain. Beberapa pemulung bahkan berinovasi dengan mengubah sampah plastic menjadi produk lain — seperti kerajinan tangan atau bahan yang bisa diproses lebih lanjut — meskipun tantangan pemasaran dan nilai jual masih menjadi hambatan utama.
Realitas ini membuka wajah lain dari sistem pengelolaan sampah di Indonesia: sementara pemerintah dan sektor swasta tengah mengupayakan solusi teknologi seperti proyek waste to energy untuk mengurangi volume sampah, ribuan pemulung tetap berada di garis depan upaya pengelolaan limbah secara manual — sering kali tanpa jaminan hak dan keselamatan kerja.
Upaya pemberdayaan, seperti inisiatif oleh organisasi masyarakat sipil, kini semakin digalakkan untuk menyediakan dukungan sosial, sembako, pelatihan, dan ruang dialog antara pemulung dan otoritas pengelola sampah. Namun, tantangan besar masih menanti, mengingat pengelolaan limbah di Bantar Gebang bukan sekadar masalah lingkungan tetapi juga persoalan kemanusiaan dan kesejahteraan sosial yang kompleks.
Di tengah gunungan sampah yang tampak tak pernah surut itu, para pemulung terus bertaruh nyawa demi harapan hidup yang lebih baik — sebuah realita keras di balik kota besar yang juga menghasilkan puluhan ribu ton limbah setiap harinya.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























