JAKARTA — Riuh rendah kegembiraan menyambut idola K-Pop di tanah air belakangan ini harus ternoda oleh serangkaian polemik. Sorotan tajam kini tertuju pada salah satu promotor besar, Mecimapro (MCP), yang tengah terjerat isu atau skandal serius terkait penyelenggaraan event terbarunya.
Kasus yang viral di media sosial ini dinilai bukan sekadar “kesalahan teknis” biasa, melainkan sebuah “Wake Up Call” (Peringatan Keras) bagi seluruh ekosistem industri pertunjukan musik di Indonesia.
Publik, khususnya komunitas penggemar K-Pop yang dikenal loyal dan berdaya beli tinggi, mulai menuntut adanya reformasi standar pelayanan dan jaminan perlindungan konsumen yang lebih nyata.
Fans Bukan Sapi Perah
Inti dari kemarahan publik dalam skandal ini bermuara pada perasaan dieksploitasi. Harga tiket konser K-Pop di Indonesia yang kian melambung tinggi—bahkan salah satu yang termahal di Asia Tenggara—seringkali tidak berbanding lurus dengan fasilitas dan kenyamanan yang didapat.
Mulai dari seat plan yang berubah mendadak, kategori restricted view yang tidak diinfokan transparan, antrean yang tidak manusiawi, hingga respons customer service yang lambat, menjadi deretan “dosa” promotor yang selama ini dimaklumi atas nama cinta pada idola.
Namun, kasus Mecimapro kali ini menjadi titik didih. Fans menegaskan bahwa mereka adalah konsumen yang memiliki hak-hak yang dilindungi undang-undang, bukan sekadar “sapi perah” yang bisa diperlakukan semena-mena.

Perlindungan Konsumen Masih Lemah?
Skandal ini juga membuka mata tentang lemahnya posisi tawar konsumen konser di hadapan promotor. Klausul “Non-Refundable” (Tiket tidak dapat dikembalikan) seringkali dijadikan tameng sakti oleh penyelenggara untuk lepas tangan dari tanggung jawab ketika terjadi perubahan sepihak yang merugikan penonton.
Pengamat industri hiburan dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) didesak untuk turun tangan. Diperlukan regulasi yang lebih ketat yang mewajibkan promotor memberikan kompensasi yang adil jika terjadi wanprestasi, serta transparansi dalam setiap kebijakan penjualan tiket.
Momentum Berbenah
Bagi Mecimapro dan promotor-promotor lain di Indonesia, insiden ini seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi dan berbenah total.
Zaman telah berubah. Fans K-Pop kini semakin kritis dan vokal. Reputasi promotor adalah aset jangka panjang. Jika kepercayaan publik hilang, maka akan sulit untuk memulihkannya kembali, terlepas dari seberapa besar nama artis yang didatangkan.
Indonesia memiliki potensi pasar konser yang luar biasa besar. Jangan sampai potensi ini rusak hanya karena ketidakprofesionalan penyelenggara dalam memanusiakan penontonnya.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























