Kecamatan Jatiasih Andalkan Sumur Bor untuk Redam Banjir, Tapi Anggaran Bermasalah
Kecamatan Jatiasih Andalkan Sumur Bor untuk Redam Banjir, Tapi Anggaran Bermasalah

Kota Bekasi – Di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, ancaman genangan air dan banjir kiriman terus menghantui meskipun hujan belum melanda dengan intensitas tinggi. Dua wilayah yang paling parah terdampak adalah Perumahan IKIP dan Kompleks Dosen, yang tercatat hingga lima kali terendam dalam satu tahun. Camat Jatiasih, Ashari, menyebut bahwa penanganan banjir di wilayah ini tidak bisa hanya mengandalkan pihak kecamatan saja.

Masalah pertama yang menambah kompleksitas banjir di kawasan ini adalah kondisi saluran air yang berada lebih tinggi dari permukaan jalan. Alhasil, air hujan maupun kiriman mengantre sebelum akhirnya dapat masuk ke drainase. Di depan Kantor Kecamatan Jatiasih, genangan sering muncul karena saluran tak mengalir dengan lancar.

Semenjak awal, kecamatan sebenarnya sudah mengusulkan perubahan pada sistem aliran saluran — termasuk rencana pembalikan arah arus saluran dari utara–selatan menjadi selatan–utara untuk memperlancar aliran. Namun sayangnya, rencana itu gagal dijalankan karena biaya yang dibutuhkan dinilai terlalu tinggi dan belum tersedia dalam anggaran.

Karena kendala anggaran tersebut, Kecamatan Jatiasih kemudian memilih solusi jangka pendek berupa pembangunan sumur bor di depan kantor kecamatan. Ashari menjelaskan bahwa meskipun sumur bor tidak dapat menghilangkan genangan secara total, setidaknya bisa menurunkan debit air yang masuk ke jalan. “Sumur bor memang tidak menghilangkan genangan sepenuhnya, tapi bisa mengurangi debit air. Kami berharap ada solusi menyeluruh agar Jatiasih benar-benar terbebas dari banjir,” katanya.

Namun, langkah darurat ini memberi indikasi bahwa penanganan masalah banjir masih sebatas mitigasi sementara. Aktivitas penting seperti pemeliharaan saluran, penataan ulang jaringan drainase, dan aliran air kembali ke sungai besar nampaknya tertunda karena terbentur anggaran. Dalam rapat forum koordinasi antar instansi, DPRD dan pihak kecamatan bersama warga pun menuntut agar masalah ini masuk dalam prioritas anggaran dan rencana kerja pemerintah daerah.

Warga sekitar menyambut baik pembangunan sumur bor sebagai inisiatif respons cepat, namun khawatir jika solusi itu hanya menjadi “tempelan” dan tidak diikuti dengan perbaikan struktural. Salah satu warga Perumahan IKIP yang enggan disebut namanya, mengungkapkan bahwa genangan sering muncul tepat di depan jalan gang rumah mereka, membuat aktivitas anak-anak bermain dan warga berjalan menjadi terganggu.

Mengingat fenomena kiriman air dan drainase tersumbat bukan hanya masalah teknis, tetapi juga terkait pemeliharaan jangka panjang, Camat Ashari menyebut bahwa penanganan akan lebih efektif jika melibatkan koordinasi antarskala: pemerintah kecamatan, pemerintah kota, RT/RW, dan masyarakat. Fokusnya tidak hanya di saluran utama tetapi juga saluran sekunder dan drainase lokal.

Ke depan, pengamat lingkungan dan kebijakan kota menyarankan agar Pemerintah Kota Bekasi menyiapkan anggaran khusus untuk perbaikan saluran kritis serta program pengendalian banjir yang menyeluruh. Penataan ruang, waduk retensi, dan sistem penyedotan air perlu diperkuat — tak boleh hanya mengandalkan sumur bor sebagai satu-satunya solusi.

Jika anggaran dan rencana kerja tak segera direalisasikan dengan sistematis, kawasan Jatiasih berisiko terus menjadi langganan genangan, dan upaya mitigasi darurat akan terus menemui hambatan yang sama. Waktu, anggaran dan sinergi menjadi kunci utama agar banjir yang meresahkan warga ini bisa diatasi secara nyata.

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: Kabar Baghasasi – Kabar Baghasasi

Baca juga berita update Internasional lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/